MASJID RAYA MEDAN

Masjid Raya al-Ma`shun Medan terletak di Kelurahan Aur,Kecamatan MedanBaru,Kotamadia Medan, kira-kira 3 km dari bandara Polonia,dan 28 km dari pelabuhan Belawan.Di sebelah barat dibatasi dengan jalanMahkamah,disebelah utara dibatasi dengan jalan Masjid,serta diselatan terdapat pemukiman yang dibatasi oleh jalan Sipiso-piso.Bangunan masjid berdiri di atas sebidang tanah yang cukup luas meliputi 13.200 m2.Masjid menghadap ke arah timur dan dikelilingi oleh pagar dari besi setinggi 1 m. Areal masjid merupakan sebuah kompleks yang terdiri atas bangunan pintu gerbang di sisi timur Taut dan tempat wudhu di sisi timur. Di sebelah barat laut dan barat daya terdapat
Deskripsi BangunanBila kita akan memasuki Masjid Raya al-Ma’shun Medan harus melalui gapura. Gapura ini memiliki dua bush ruangan yang terdapat pada sayap kiri dan kanan gapura. Ruangan ini sekarang difungsikan sebagai kantor pengurus masjid. Setelah kita memasuki gapura, di halaman masjid akan dijumpai bangunan induk, di sisi timur terdapat bangunan tempat wudhu, dan di sisi utara dijumpai pondasi berbentuk lingkaran yang difungsikan sebagai taman, serta di sisi barat Taut masjid terdapat menara masjid. Bangunan Masjid Raya Medan dikelilingi saluran air selebar 0,5 m, dan dalam 0,5 m. Bangunan masjid ini berdiri di atas pondasi masif dan pejal dengan ketinggian 2,3 m dari permukaan tanah. Fondasi terbuat dari tembok.Denah masjid berbentuk persegi delapan (oktagonaf).Ruangan-ruangan dalam bangunan induk terdiri atas serambi dan ruang utama masjid.

SerambiUntuk memasuki serambi pada bangunan induk melalui tangga dengan 13 anak tangga yang terletak pada sisi-sisi timur laut, tenggara, dan barat laut. Tangga ini berukuran lebar 4 m, tinggi 18 cm, terbuat dari bahan marmer berwarna putih. Serambi mengelilingi ruang utama masjid yang berfungsi sebagai tempat shalat. Bangunan serambi terletak di sebelah barat, timur, utara, dan selatan berbentuk seperti lorong dan denahnya masing-masing berbentuk empat persegi panjang dengan ukuran 18 × 3 m. Pada sudut tenggara, timur taut, barat taut, dan barat daya terdapat serambi yang lebih tertutup, mempunyai ruangan berbentuk persegi delapan dengan keempat sisi yang panjang berukuran 6 m, dan empat sisi pendek berukuran 3 m.

Antara serambi yang terdapat di sebelah barat, timur, utara, dan selatan dengan serambi yang terletak di sudut-sudut terdapat lengkung ladam kuda yang bulat dengan ukuran tinggi sampai ke puncak lengkungan 3 m dan lebar 2 m. Serambi-serambi yang terletak di sudut masing­masing memiliki satu buah pintu masuk yang terbuat dari kayu dan berhiaskan geometris. Selain pintu, masing-masing juga memiliki dua buah jendela yang berhias. Sebelum memasuki serambi lebih dulu harus melalui pintu yang terdapat di sudut timur taut yang merupakan pintu depan/utama. Pintu yang lain terletak di sudut tenggara (pintu samping), dan sudut barat daya (pintu belakang masjid). Pintu-pintu ini berbentuk lengkungan tiga. Pada sisi luar serambi utama, timur, selatan, dan barat masing-masing terdapat deretan sembilan buah tiang yang dihubungkan satu sama lain serta disusun secara horizontal. Tiang ini berdiameter 30 cm dan keliling 94,2 cm, tinggi 3 m. Bagian dasar (lapik tiang base) berbentuk bujur sangkar dengan sisi 45 cm, dan tinggi 10 cm. Di atasnya terdapat pelipit setengah lingkaran yang berbentuk sisi persegi delapan dengan tinggi 10 cm.Bagian puncak berbentuk bujur sangkar dengan sisi 45 cm dan tinggi 25 cm,dihias dengan pelipit rata dan lekukan-lekukan yang terdapat pada setengah bagian puncak hingga 15 cm dari atas colum (bagian atas tiang atas). Lantai pada serambi timur, barat, selatan, utara dari tegel disusun secara memanjang. Bentuk tegelnya bujur sangkar dengan sisi berukuran 15 cm dan berbentuk oktagonal dengan sisi­sisi 5 cm. Demikian juga lantai pads serambi di sudut tenggara, barat daya, barat laut, dan timur laut masjid bentuknya sama dengan serambi-serambi tersebut.

Ruang utamaDinding serambi bagian dalam merupakan dinding pembatas antara ruang serambi dan ruang utama masjid. Ruang utama masjid merupakan ruang bagian dalam masjid, memiliki dinding berdenah persegi delapan dengan ketinggian 11,5 m. Pada sisi timur, selatan, barat dan utara dinding ini masing-masing memiliki satu buah pintu masuk yang terbuat dari kayu serta di sisi kiri dan kanan pintu ini terdapat dua bush jendela yang terbuat dari kaca berhias (starnet glass). Pada sisi tenggara, timur laut, barat daya dan barat laut ruang utama masjid terdapat satu buah pintu masuk ke ruang utama terbuat dari kayu. Pintu ini berbentuk empat persegi panjang lebar 2 m, dan tinggi 3 m. Daun pintu ini berhiaskan pola geometris. Selain itu, pada dinding ruang utama masjid terdapat delapan bush jendela kaca yang berhias, masing-masing dua buah pada setiap dinding timur, selatan, barat, dan utara. Jendela ini berukuran lebar 0,5 m dan tinggi sampai kemuncak lengkungan 1,2 m, terdapat pada dinding ruang utama masjid sisi timur, barat, selatan, barat dan utara masing-masing empat buah. Di dalam ruang utama masjid terdapat tiang, mihrab, mimbar, dan mimbar kedua (dikba).

MihrabMihrab adalah sebuah ruangan di dalam masjid tempat imam shalat, terletak di sisi barat taut masjid sebagai tanda arah kiblat. Mihrab ini berupa relung berbentuk lengkungan ladam kuda yang runcing dan menjorok ke depan sekitar 95 cm. Bahan mihrab dari marmer berwarna hijau dan krem. Ukuran mihrab lebar 2,5 m dan tinggi sampai ke puncak lengkungan 5,5 m. Di sisi kanan luar mlhrab terdapat dua buah tiang semu terbuat dari manner. Di bawah relung mihrab juga terdapat tiang tiang semu (pilaster) yang menonjol dan berderetan berjumlah sepuluh buah dengan ukuran tinggi 34 cm. Pada bagian atas pilaster dihubungkan dengan deretan lengkungan-lengkungan kecil yang tingginya 10 cm.

MimbarDi dalam ruang utama bangunan induk terdapat dua mimbar yakni mimbar I terletak di sebelah barat taut, tepatnya di sebelah kiri mihrab dan mimbar 11 terletak di sebelah timur. Mimbar I berdenah empat persegi panjang dengan ukuran panjang 4,5 m, lebar I m. Tinggi mimbar sampai ke puncak ± 6 m. Tinggi kaki mimbar 18 cm dari permukaan. Untuk memasuki mimbar melalui sembilan anak tangga. Di ujung kanan kiri tangga terdapat dua buah tiang yang berukuran tinggi 1,26 m dan terbuat dari marmer. Pipi tangga terbuat dari kayu, terdiri atas tiang tiang kayu yang disambungkan dengan lengkungan berbentuk melingkar-lingkar dari ujung anak tangga yang pertama sampai kesembilan dengan ketinggian 1,16 m. Tubuh mimbar terbuat dari manner berwarna kuning gading. Atap mimbar berbentuk kubah ditopang oleh delapan tiang berbentuk silinder dengan tinggi I m. Antara tiang satu dengan tiang lainnya dihubungkan dengan lengkungan. Pada bagian puncak kubah mimbar terdapat hiasan kemuncak atap. Atap dan tiang mimbar terbuat dari bahan tembaga dan pada bagian dalam diukir dengan motif pilin berganda dan daun-daunan.

Mimbar 11 ini disebut dikba, merupakan tempat wakil imam (bilal) untuk mengulang ucapan-ucapan imam dalam saat-saat tertentu, juga untuk tempat azan.yang kedua, membuka acara shalat (khusus shalal Jum’at) dengan membaca ayat­ayat al-Qur’an. Dikba merupakan bangunan yang terbuka tanpa atap dan mempunyai dua buah tangga naik berbentuk melingkar yang saling berhubungan. Tangga dikba berpagar setinggi 60cm merupakan pipi tangga. Di bawah tangga terdapat pilar yang berfungsi sebagai penayngga. Pilar bagian bawah setinggi 35 cm dan berdiameter I m berbentuk oktagonal dengan pelipit rata yang makin ke atas makin mengecil dan dihiasi geometris. Pilar bagian tengah berbentuk oktagonal dengan garis tengah I m dan tinggi 50 cm. Bagian mil dihiasi dengan panil yang berbentuk persegi panjang dan geometris, serta pelipit rata. Pelipit-pelipit ini makin ke atas makin mengecil. Pilar bagian atas berbentuk oktagonal dan disekelilingnya terdapat 16 tiang berbentuk silinder yang disambungkan dengan lengkungan. Tinggi tiang 50 cm dan di atasnya terdapat pelipit-pelipit yang makin ke atas makin membesar.

Latar SejarahMasjid Raya Al Ma’shun Medan yang dimiliki dan dikelola oleh keluarga Kerajaan Sultan Deli ini didirikan pada tanggal 21 Agustus 1906. Arsiteknya T.H. van Erp dari Belanda adalah seorang perwira Zeni Angkatan Darat KNIL, juga banyak mendesain bangunan-bangunan besar di Jakarta. Nama al-ma’shun berarti “masjid yang mendapat pemeliharaan dari Allah SWT”. Pembangunan masjid selesai dalam tiga tahun. Peresmian pernakaiannya bertepatan dengan hari dilaksanakan shalat Jum’at yang dihadiri oleh pembesar-pembesar kerajaan termasuk Sri Paduka All Ma’shun, Tuanku Sultan Amis, Abdul Jalal Rakhmadsyah dari Langkat dan Sultan Sulaiman Alamsyah dari negeri Serdang. Pada masa lalu masjid ini merupakan tempat shalat Jum’at satu-satunya di wilayah Kesultanan Deli. Hal ini menunjukkan bahwa Masjid Raya al-Ma’shun Medan merupakan. masjid Kesultanan tetapi tidak terdapat tempat sembahyang khusus untuk Sultan (maksurah) seperti pada umumnya masjid-masjid Kesultanan.

Pada tahun 1970 M dilakukan pengecatan oleh Direktorat Jenderal Pariwisata pada bagian luar dengan menyesuaikan wama aslinya. Tahun 1991 dilaksanakan perbaikan yang meliputi perbaikan jalan, taman, pekarangan, halaman, dan pergantian bola-bola lampu yang rusak. Perbaikan ini dilakukan oleh Proyek Rehabilitasi, Dinas Bangunan Kotamadia Daerah Tingkat II Medan.mimbar berbentuk kubah ditopang oleh delapan tiang berbentuk silinder dengan tinggi I m. Antara tiang satu dengan tiang lainnya dihubungkan dengan lengkungan. Pada bagian puncak kubah mimbar terdapat hiasan kemuncak atap. Atap dan tiang mimbar terbuat dari bahan tembaga dan pada bagian dalam diukir dengan motif pilin berganda dan daun-daunan. Mimbar 11 ini disebut dikba, merupakan tempat wakil imam (bilal) untuk mengulang ucapan-ucapan imam dalam saat-saat tertentu, juga untuk tempat azan.yang kedua, membuka acara shalat (khusus shalal Jum’at) dengan membaca ayat­ayat al-Qur’an. Dikba merupakan bangunan yang terbuka tanpa atap dan mempunyai dua buah tangga naik berbentuk melingkar yang saling berhubungan.

Tangga dikba berpagar setinggi 60cm merupakan pipi tangga. Di bawah tangga terdapat pilar yang berfungsi sebagai penayngga. Pilar bagian bawah setinggi 35 cm dan berdiameter I m berbentuk oktagonal dengan pelipit rata yang makin ke atas makin mengecil dan dihiasi geometris. Pilar bagian tengah berbentuk oktagonal dengan garis tengah I m dan tinggi 50 cm. Bagian mil dihiasi dengan panil yang berbentuk persegi panjang dan geometris, serta pelipit rata. Pelipit-pelipit ini makin ke atas makin mengecil. Pilar bagian atas berbentuk oktagonal dan disekelilingnya terdapat 16 tiang berbentuk silinder yang disambungkan dengan lengkungan. Tinggi tiang 50 cm dan di atasnya terdapat pelipit-pelipit yang makin ke atas makin membesar.

Latar SejarahMasjid Raya Al Ma’shun Medan yang dimiliki dan dikelola oleh keluarga Kerajaan Sultan Deli ini didirikan pada tanggal 21 Agustus 1906. Arsiteknya T.H. van Erp dari Belanda adalah seorang perwira Zeni Angkatan Darat KNIL, juga banyak mendesain bangunan-bangunan besar di Jakarta. Nama al-ma’shun berarti “masjid yang mendapat pemeliharaan dari Allah SWT”. Pembangunan masjid selesai dalam tiga tahun. Peresmian pernakaiannya bertepatan dengan hari dilaksanakan shalat Jum’at yang dihadiri oleh pembesar-pembesar kerajaan termasuk Sri Paduka All Ma’shun, Tuanku Sultan Amis, Abdul Jalal Rakhmadsyah dari Langkat dan Sultan Sulaiman Alamsyah dari negeri Serdang. Pada masa lalu masjid ini merupakan tempat shalat Jum’at satu-satunya di wilayah Kesultanan Deli. Hal ini menunjukkan bahwa Masjid Raya al-Ma’shun Medan merupakan. masjid Kesultanan tetapi tidak terdapat tempat sembahyang khusus untuk Sultan (maksurah) seperti pada umumnya masjid-masjid Kesultanan. Pada tahun 1970 M dilakukan pengecatan oleh Direktorat Jenderal Pariwisata pada bagian luar dengan menyesuaikan wama aslinya. Tahun 1991 dilaksanakan perbaikan yang meliputi perbaikan jalan, taman, pekarangan, halaman, dan pergantian bola-bola lampu yang rusak. Perbaikan ini dilakukan oleh Proyek Rehabilitasi, Dinas Bangunan Kotamadia Daerah Tingkat II Medan.

F.N sumber buku msjd kuno ditjen kebudayaan depdikbud.

http://kemenag.go.id/

Disusun kembali : @ri_mslm